LAPORAN PRAKTIKUM KPKT ACARA II

 

Nama                           : Alvia Nur Fadilla

NIM (Golongan)         : 18/424341/PN/15381 (A5)

Asisten Koreksi           : Luthfi Indriyani Muslihah

LAPORAN PRAKTIKUM KPKT ACARA II

“MENGENAL PUPUK”

Metode Wawancara Langsung dengan Petani

            Pada hari Selasa, 20 Oktober 2020 saya berkesempatan melakukan wawancara langsung dengan petani untuk “Mengenal Pupuk”. Petani yang saya wawancarai bernama Bapak Wakidi. Bapak Wakidi berusia 74 tahun. Lokasi lahan sawahnya terletak di daerah Sumberan, Kasihan Bantul. Komoditas yang ditanam oleh Bapak Wakidi adalah Padi varietas Situbagendit. Padi ialah tanaman pangan yang menghasilkan beras, beras digunakan sebagai sumber makanan penduduk Indonesia (Sari et al., 2014). Seiring dengan pertambahan penduduk Indonesia, maka penyediaan beras harus dioptimalkan agar kebutuhan pangan penduduk dapat terpenuhi.

Gambar 1. Lahan Sawah milik Bapak Wakidi

            Pupuk merupakan faktor penujang untuk memenuhi unsur hara yang dibutuhkan tanaman, salah satunya adalah pupuk Urea yang dapat menunjang ketersediaan hara nitrogen dalam tanah. Nitrogen mempunyai peranan penting bagi tanaman khususnya tanaman padi yaitu untuk mendorong pertumbuhan tanaman yang cepat dan memperbaiki tingkat hasil dan kualitas gabah melalui peningkatan jumlah anakan, pengembangan luas daun, pembentukan gabah, pengisian gabah, dan sintesis protein (Patti et al., 2013). Pupuk yang digunakan Bapak Wakidi untuk menunjang produktivitas padi miliknya yaitu pupuk NPK Phonska, pupuk Urea, pupuk TSP yang merupakan pupuk anorganik dan pupuk kandang yang merupakan pupuk organik. NPK Phonska (15:15:15) merupakan salah satu produk pupuk NPK yang telah beredar di pasaran dengan kandungan nitrogen (N) 15 %, Fosfor (P2O5) 15 %, Kalium (K2O) 15 %, Sulfur (S) 10 %, dan kadar air maksimal 2 % (Simanjuntak et al., 2015).

Mengacu pada PP. No. 8 tahun 2001, pupuk organik adalah pupuk dengan batasan pupuk yang sebagian atau seluruhnya terdiri dari bahan organik tumbuhan atau hewan yang telah melalui proses rekayasa, dapat berbentuk padat atau cair yang digunakan untuk menyediakan hara tanaman serta dapat memperbaiki sifat fisik, kimia dan biologi tanah (Suwahyono, 2011). Sedangkan pupuk anorganik merupakan golongan agrokimia, semua pupuk yang berasal dari bahan kimia anorganik yang dibuat oleh pabrik (Suwahyono, 2011). Penggunakan pupuk anorganik yang tidak tepat dan berlebihan dapat menyebabkan kerusakan lingkungan dan menurunkan hasil panen (Rahman and Zhang, 2018). Sehingga perlu hati-hati dalam penggunaan pupuk anorganik ini agar tepat dosis dan tidak menyebabkan kerugian.

Gambar 2. Dokumentasi saat Wawancara

Pada saat wawancara, Bapak Wakidi menjelaskan bahwa beliau mengaplikasikan pupuk yang digunakannya dalam 3 waktu yaitu pada 7 hari setelah tanam, antara 15-21 hari setelah tanam, dan pemupukan penutup pada 40 hari setelah tanam. Pada waktu 7 hari setelah tanam, pupuk yang digunakan yaitu NPK Phonska dengan dosis 15kg/1000m2 dan TSP dengan dosis 5kg/1000m2, yang diaplikasikan dengan cara NPK Phonska dan TSP dicampur rata kemudian disebar di permukaan tanah lahan sawah yang ditanami. Pada waktu antara 15-21 hari setelah tanam Bapak Wakidi menggunakan pupuk NPK Phonska dengan dosis 15kg/1000m2 dan Urea dengan dosis 5kg/1000m2, cara pengaplikasiannya sama yaitu pupuk NPK Phonska dengan pupuk Urea dicampur rata kemudian disebar ke permukaan tanah lahan sawah yang ditanami. Pemumukan penutup dilakukan pada 40 hari setelah tanam, pupuk yang digunakan hanya berupa pupuk Urea dengan dosis 5kg/1000m2 yang diaplikasikan dengan cara langsung disebar ke lahan sawah yang ditanami. Menurut Fitria dan Ali (2014) untuk tanaman padi sawah, dosis pemupukan pupuk NPK Phonska adalah sebanyak 300kg/ha dan untuk pupuk Urea adalah sebanyak 100kg/ha. Hal ini berarti penerapan dosis pupuk pada lahan Bapak Wakidi telah sesuai dengan literatur yang ada.


Gambar 3. Foto Bersama Bapak Wakidi

Daftar Pustaka

Fitria, E dan M.N. Ali. 2014. Kelayakan usaha tani padi gogo dengan pola pengelolaan tanaman terpadu (PTT) di Kabupaten Aceh Besar, Provinsi Aceh. Widyariset. 17(3): 425-434.

Patti, P.S. Kaya, E dan Silahooy, C.H. 2013. Analisis Status Nitrogen Tanah Dalam Kaitannya Dengan Serapan N Oleh Tanaman Padi Sawah Di Desa Waimital, Kecamatan Kairatu, Kabupaten Seram Bagian Barat. Jurnal Agrologia. 2(1):51-58.

Rahman,  K.M.A., and D. Zhang. 2018. Effect of fertilizer broadcasting on the excessive use of inorganic fertilizers and environmental sustainability. Sustainability. 10(759) : 2-15.

Sari, R.P., T. Islami, dan T. Sumarni. 2014. Aplikasi pupuk kandang dalam meminimalisir pupuk anorganik pada produksi padi (Oryza sativa L.) metode SRI. 2(4):308-315.

Simanjuntak, C.P.S., J. Ginting, dan Meiriani. 2015. Pertumbuhan dan produksi padi sawah pada beberapa varietas dan pemberian pupuk NPK. Jurnal Online Agroekoteknologi. 3(4): 1416-1424.

Suwahyono, U. 2011. Petunjuk Praktis Penggunaan Pupuk Organik secara Efektif dan Efisien. Penebar Swadaya, Depok.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

LAPORAN PRAKTIKUM KPKT ACARA V