LAPORAN PRAKTIKUM KPKT ACARA V
Nama :
Alvia Nur Fadilla
NIM (Golongan) : 18/424341/PN/15381 (A5)
Asisten
Koreksi : Luthfi Indriyani
Muslihah
LAPORAN
PRAKTIKUM KPKT ACARA V
“PROLEMATIKA KESUBURAN TANAH DI
SEKITAR”
Pada
hari Selasa, 20 Oktober 2020 sekitar pukul 16.00 WIB telah dilakukan wawancara dengan
petani untuk memenuhi praktikum acara V yang berjudul “Prolematika Kesuburan
Tanah di Sekitar”. Petani yang saya wawancarai bernama Bapak Wakidi. Bapak Wakidi berusia
74 tahun. Pekerjaannya adalah sebagai petani dan peternak sapi. Lokasi lahan
sawahnya terletak di daerah Sumberan, Kasihan Bantul. Luas lahannya sekitar
800m2. Fisiografinya berupa dataran, topografinya datar, dengan
ketinggian 102m AMSL. Kedalaman air tanahnya >700cm dan landusenya adalah
sawah. Komoditas yang ditanam oleh Bapak Wakidi adalah Padi varietas Situ bagendit.
Sebelum
bertanam, Bapak Wakidi biasanya membersihkan dahulu lahan yang akan ditanami
dari gulma dan sisa tanaman. Terkadang beliau juga memberikan pupuk kandang
pada lahannya sebelum proses penanaman, namun untuk musim tanam kali ini beliau
tidak memberikan pupuk kandang pada lahannya. Pengolahan tanah yang dilakukan
Bapak Wakidi yaitu dengan cara dicangkul dan ditraktor. Proses pencangkulan
dilakukan saat membuat pematang pada lahan. Setelah itu tanah yang akan
ditanami dibajak menggunakan traktor. Pengolahan tanah sangat penting dilakukan
karena pengolahan tanah dapat mengubah fisik tanah, seperti kapasitas menahan
air, distribusi ukuran pori tanah, kerapatan massa tanah, dan agregasi tanah.
Pengolahan tanah juga dapat meningkatkan degregasi bahan organik oleh
mikroorganisme. Dengan pengolahan tanah yang tepat maka dapat menyediakan
lingkungan yang sesuai dalam perkecambahan benih, pengendalian gulma,
ketersediaan air secara teratur, dan pengurangan limpasan permukaan melalui
peningkatan infiltrasi (Xomphoutheb et al.,
2020).
Jenis
komoditas yang ditanam oleh Bapak Wakidi yaitu Padi varietas Situ Bagendit
dengan jarak tanam 20 cm X 20 cm. Pada hari saat wawancara tersebut umur padi
yang ditanam oleh Bapak Wakidi sekitar 70 hari, dan beliau juga mengatakan
bahwa umur panennya yaitu saat tanaman sudah berumur 110-120 hari. Hal ini
sesuai dengan yang ditulis oleh Simanulang, 2020 bahwa Padi varietas Situ
Bagendit adalah salah satu varietas padi gogo, tetapi mampu tumbuh baik pada
lingkungan lahan sawah dan tanaman varietas ini mempunyai tinggi antara
99-105cm, dengan umur 110-120 hari setelah sebar (HSS). Varietas ini tahan
terhadap penyakit blas, agak tahan terhadap penyakit hawar daun, dan juga tahan
terhadap penyakit tungro. Varietas ini menghasilkan tekstur nasi pulen, dan
rata-rata produksinya 4,0 ton GKP/ha pada lahan kering, serta 5,5 ton/ha pada
lahan sawah. Sehingga dengan potensi hasil yang demikian, menanam padi varietas
tersebut dapat memberikan kontribusi dalam peningkatan produksi padi nasional,
ketahanan pangan, dan pendapatan petani (Simanulang, 2020).
Gambar 1. Lahan Sawah milik Bapak Wakidi
Pola
tanam yang digunakan oleh Bapak Wakidi adalah monokultur padi. Monokultur
adalah salah satu cara budidaya di lahan pertanian dengan menanam satu jenis
tanaman saja di satu areal dan membuat penggunaan lahan menjadi lebih efisien.
Dengan pola tanam monokultur dapat menghasilkan produksi yang tinggi karena
pemeliharaan dan perencanaan yang sangat efisien dan juga dapat menekan biaya
tenaga kerja karena keseragaman yang ditanam (Suryanto, 2019). Bapak Wakidi
juga menanam padi selama tiga musim tanam berturut-turut dan rata-rata hasil
padinya yaitu 200-300 kg/800m2.
Terkait
permasalahan kesuburan tanah, menurut Bapak Wakidi tanah pada lahan sawah yang
dikelolanya masih sangat subur sehingga tidak ada masalah yang berarti. Namun,
Bapak Wakidi mengatakan bahwa sedikit terkendala mengenai akses pupuk. Bapak
Wakidi terkadang kesulitan mendapatkan pupuk yang dibutuhkan karena seperti
dipersulit oleh orang yang mengelola/menjualnya dan diperlukan kartu tani untuk
bisa mendapatkan pupuk yang dibutuhkannya. Dalam mengatasi hal tersebut sering
kali Bapak Wakidi pergi ketempat yang lebih jauh untuk mendapatkan pupuk
tersebut, namun harga pupuk pun lebih mahal sehingga membuat Bapak Wakidi
merasa kesulitan.
Bapak
Wakidi juga mengatakan bahwa ada beberapa hama seperti tikus, burung, dan
walang sangit yang menyebabkan hasil padi menurun bahkan hingga gagal panen. Hama burung merupakan salah satu musuh utama bagi
petani yang dapat menurunkan produksi tanaman. Menurut Salsabila (1991) dalam
Hardiansyah (2020), hama burung dapat memakan padi rata-rata sebanyak 5 g
sehari. Serangan
yang dilakukan oleh hama burung berupa memakan bulir pada malai padi yang sudah
memasuki masa masak susu atau padi dengan masa tanam 70 hari yang menyebabkan produksi
padi mengalami penurunan sebanyak 30-50% akibat padi mengering bahkan biji
hampa karena serangan hama burung tersebut (Hardiansyah, 2020).
Dalam
mengatasi hama-hama itu Bapak Wakidi menggunakan obat hama
(pestisida/insektisida), dan memasang kaleng-kaleng untuk mengusir hama burung.
Namun, penggunaan insektisida yang tidak tepat dan berlebih dapat mengakibatkan
bebagai masalah, mulai dari residu, ledakan hama sekunder, resurjensi,
resistensi, dan perubahan status serangga dari hama sekunder menjadi primer
(Metcalf, 1994 cit. Trisyono, 2019). Residu insektisida pada bagian tanaman dan
air yang dikonsumsi manusia dapat mengakibatkan berbagai gangguan kesehatan
seperti karsinogenik, teratogenik, mutagenik dan secara akut paparan
pestisida/insektisida dapat mengakibatkan kematian (Trisyono, 2019).
Menurut saya daripada menggunakan pestisida/insektisida lebih baik menggunakan musuh alami hama tersebut, seperti burung hantu untuk musuh alami tikus. Tetapi menurut Aji (2019), burung hantu dapat diganti dengan barangbang yang merupakan pangkal pelepah daun kelapa yang sudah kering, barangbang kering ini jika dilihat sekilas akan mirip seperti burung hantu sehingga dapat digunakan untuk menipu hama tikus sehingga hama tersebut akan menjauh. Kemudian menggunakan air sabun cuci piring untuk mengatasi walang sangit, dengan cara menyemprotkannya langsung ke hama tersebut, dan juga dapat menggunakan pestisida organik agar tetap ramah lingkungan. Kemudian menurut Hardiansyah (2020), menggunakan aroma khas yang ditimbulkan oleh jengkol, bawang putih, dan buah bintaro karena aroma tersebut tidak disukai oleh berbagai hama termasuk burung.
Gambar
2. Dokumentasi dengan Petani (Bapak Wakidi)
Daftar Pustaka :
Simanulang, Z.A. 2020. Padi Gogo Varietas Situ
Bagendit. http://bpatp.litbang.pertanian.go.id/
. Diakses pada 31 Oktober 2020.
Hardiansyah, M.Y. 2020. Pengusir hama burung pemakan padi otomatis dalam menunjang stabilitas
pangan nasional. Jurnal ABDI. 1(1): 85-103.
Suryanto, A. 2019. Pola Tanam. UB Press, Malang.
Trisyono, Y.A. 2019. Insektisida Pengganggu
Pertumbuhan dan Perkembangan Serangga. Gadjah Mada University Press,
Yogyakarta.
Xomphoutheb, T., S. Jiao, X. Guo,
F. S. Mabagala, B. Sui, H. Wang, L. Zhao, and X. Zao. 2020. The effect of
tillage systems on phosphorus distribution and forms in rhizosphere and
non-rhizosphere soil under maize (Zea
mays L.) in Northeast China. Scientific Reports 10 (1): 1-9.
Aji, R. 2019. 3 Cara Ampuh Mengusir Hama Wereng dan
Tikus. https://www.ngunut-playen.desa.id/.
Diakses pada 3 November 2020.


Komentar
Posting Komentar